Jika kamu menginginkan hal baik..

Jika kamu menginginkan hal baik, maka jadilah bagian dari kebaikan itu sendiri..

Seseorang ketika ingin menginginkan teman yang baik, maka juga dia harus menjadi individu yang baik. agar dia bisa menjadi teman yang baik itu sendiri juga agar bisa tercipta lingkungan pertemanan yang baik.

Seseorang ketika ingin menginginkan pasangan yang baik, maka dia juga harus menjadi calon pasangan yang baik. karena janjinya adalah laki-laki yang baik itu untuk perempuan yang baik, begitu juga dengan sebaliknya.

Seseorang ketika menginginkan generasi penerus yang baik, maka dia juga harus menjadi generasi yang baik. karena generasi penerus akan banyak belajar dan mencontoh dari generasi sebelumnya.

Seseorang ketika menginginkan pemimpin yang baik, maka dia juga harus mau dipimpin oleh orang yang mereka kehendaki kebaikan. karena sebagaimana seorang pemimpin dituntut akan kepemimpinannya, orang yang dipimpin sebenarnya juga dituntut akan ketaatannya terhadap pemimpin mereka.

Seseorang ketika menginginkan bangsa yang baik, maka dia juga harus mau menjadi warga yang baik. karena kebaikan suatu bangsa dapat tercermin dari keadaan para warganya.

Termasuk ketika seseorang ingin menjadi hamba yang baik, maka sudah sepantasnya dia memberikan pengabdian terbaik kepada yang di abdinya. dan sebaik-baik penghambaan adalah penghambaan diri kepada Allah, Dzat yang Maha Kaya, tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. sedangkan manusia sebagai hamba, adalah makhluk yang butuh kepada Tuhannya, makhluk yang memiliki kekurangan dan kelemahan.

Lalu apakah pantas, bagi seorang hamba, yang mengaku mengabdikan diri bagi tuannya, ternyata juga menghamba kepada tuan-tuan yang lainnya?

Lalu apakah pantas, bagi seorang hamba, ketika sudah jelas perintah dari tuan mereka, kemudian memilah-milih perintah yang akan akan dikerjakan olehnya? bahkan merubah perintah agar cocok/sesuai dengan keinginan hambanya..

Lalu apakah pantas, bagi seorang hamba, untuk meremehkan larangan dari tuannya dan bertindak semaunya, sedangkan tuannya menyaksikan semua perbuatan yang dilakukannya?

Lalu apakah pantas, bagi seorang hamba, untuk berbangga dan merasa tinggi dengan apa yang dimilikinya, sedangkan semuanya itu adalah pemberian dari tuannya?

Lalu apakah masih pantas, menyebut diri seorang hamba, sedangkan dia enggan mencari tahu makna dan hakikat dari penghambaan itu sendiri?

Dan barangsiapa yang menyangka bahwa seorang hamba bisa saja keluar dari penghambaan diri kepada Allah dalam satu sisi saja, atau menyangka bahwa keluar dari penghambaan diri itu lebih utama,

Maka ketahuilah hakikat penghambaanmu yang sebenarnya..

*Di tulis ulang dari blog lama yang sudah hilang

Author: AINAN ILMANDA SYAFA`AT

Muslim, narablog, pengguna linux, asli Surabaya. Seorang pekerja lepas (freelancer) yang kadang juga kerja serabutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *